Sabtu, 29 Agustus 2015

Nostalgia bersama Jerman Timur

Aku lahir saat dunia dimenangkan oleh kapitalis. Ya, tepatnya di tahun 2000. Aku tumbuh di era dimana Komunis dianggap sebagai ideologi yang gagal dan dicap Atheis.

Sejak sd, aku sangat penasaran dan ingin tahu apa saja yang terjadi sebelum aku lahir, dan kenapa orang-orang disekitarku sangat membenci Komunis. Hal ini dapat dilihat saat aku tak sengaja mengucapkan "Komunis" di depan Nenekku. Saat itu ia kaget dan langsung memarahiku.

"Astaghfirloh! Trystan! Jangan sekali-kali lagi ucapkan kata itu!"

Seingatku, itulah yang Nenekku lakukan kepadaku setelah tak sengaja mengucapkan kata itu. Komunis.

Sejak saat itu, aku makin penasaran dengan apa yang disebut dengan Komunis. Ideologi macam apa itu? apakah ideologi ini pernah menguasai Indonesia? apakah ideologi ini pembawa kebaikan atau malah ketakutan, sehingga hampir semua orang yang kutemui sangat anti dan ketakutan saat mendengankan kata tersebut?

Semua pertanyaan itu mungkin telah terjawab dengan sebuah film. Ya, lebih tepatnya sebuah film dokumenter dibawah ini:

Rating Film : 4/5

Awalnya aku menemukan film ini saat sedang browsing. Saat itu aku sangat penasaran dengan kehidupan warga yang hidup di negara Komunis. Maka aku pun seketika menemukan film ini. Menurut orang-orang yang telah menontonya, film ini cukup bagus dan menarik karena dengan sengaja film ini memperlihatkan kehidupan warga Jerman Timur yang negaranya berideologi Komunis. 

Yippie! Aku sangat senang sekali! Akhirnya aku menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan tentang kehidupan sebelum aku lahir (tepatnya 1980-1990). Maka aku pun segera menonton film ini.

FIlm Good Bye Lenin sendiri adalah film yang berasal dari Jerman. Film ini mengangkat kisah tentang perjuangan seorang anak yang sangat peduli terhadap Ibunya. 

Jadi alkisah, di tahun 1990 Jerman bersatu kembali setelah sempat berpisah selama 40 tahun akibat perang dingin antara Amerika (Kapitalis) dan Uni Soviet (Komunis).Nah, di Berlin (Ibukota Jerman kini) ada seorang perempuan yang keadaanya kritis. Ia terkena koma. Sang dokter yang merawatnya bilang bahwa nyawa perempuan tua ini dapat melayang jika ia tahu bahwa negaranya yang sangat ia banggakan, Jerman Timur telah tiada.

Maka, sang anak yang bernama Alex pun segera membuat suasana apartemen tempat tinggalnya kembali seperti saat zaman Komunis dahulu. Kesan norak dan kuno pantas disematkan untuk suasana apartemen khas Komunis tersebut. Selain itu, dengan bantuan dari sang adik, pacar dan temanya yang berasal dari Jerman Barat, maka ia pun segera membuat "sandiwara" seolah-olah Jerman Timur masih ada.

Awalnya sang ibu tidak curiga. Tapi lama kelamaan, ia tersadar ada yang tidak beres dengan negaranya tersebut. Dan setelah ibunya tahu bahwa Jerman Timur telah bubar... lanjutanya nonton sendiri deh filmnya :D 

Nah! Setelah aku menonton film tersebut, rupanya kini aku mengerti mengapa orang-orang cukup risau dan takut saat mendengar kata Komunis. Rupanya, itu karena orang-orang berpandangan bahwa Komunis identik dengan kekerasan, kerja paksa dan Atheis. Padahal tidak semua hal itu benar. Komunis pada dasarnya memiliki dasar yang bagus, tapi sayangnya orang-orang yang menganut ideologi ini justru tidak menaati dasar-dasarnya, sehingga pada akhirnya : Komunis dicap gagal.

Selain itu, aku merasa film ini cukup menarik dan menurut beberapa sumber yang kubaca, rupanya film ini dibuat sebagai nostalgia bagi rakyat Jerman Timur yang kini negaranya telah tiada. 

Jadi, pertanyaan masa kecilku terjawab sudah. Rupanya, tak selamanya Komunis itu buruk. Mungkin Komunis dianggap sebagai ideologi sesat karena akal-akalan barat yang menganut sistem kapitalis (musuh besar Komunis). Maka itu, jangan mudah terkecoh dengan apa yang diberitakan di media masa kini. Kabanyakan terlalu memihak barat. 

Oh iya, aku sangat menyarakan film ini untuk ditonton, apalagi bagi orang-orang yang penasaran dengan Komunis dan kehidupan di dalamnya.